Mencegah Money Politics Digital dan Hoaks AI, Bawaslu Lebak-PMII USB Perkuat Garda Pengawasan
|
Lebak, Bawaslu Lebak-Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Kabupaten Lebak merangkul Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat Universitas Setia Budhi (USB) Rangkasbitung dalam konsolidasi demokrasi bertema “Garda Depan Demokrasi: Aktivisme Mahasiswa dalam Pengawasan Pemilu Partisipatif” di Kantor Bawaslu Kabupaten Lebak, Rangkasbitung, Jumat (30/10/2026).
Forum strategis ini digelar sebagai langkah konkret memperkuat keterlibatan gerakan mahasiswa dalam mengawal integritas pemilu. Di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital, konsolidasi ini menyoroti pergeseran tantangan pengawasan pemilu, mulai dari modus politik uang digital hingga ancaman manipulative content berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence).
Anggota Bawaslu Kabupaten Lebak Koordinator Divisi (Kordiv) Pencegahan, Partisipasi Masyarakat, dan Humas, Asep Rizal Murtadho, menegaskan bahwa mahasiswa harus mampu melampaui peran konvensional sebagai pemilih pasif. Spirit historis gerakan mahasiswa harus ditransformasikan ke dalam sistem pengawasan partisipatif yang responsif.
Mahasiswa wajib jadi mata dan telinga Bawaslu dalam menjaga pemilu dari politik uang digital dan ancaman deepfake AI." Sinergi Bawaslu Kabupaten Lebak bersama PMII Komisariat Universitas Setia Budhi (USB) Rangkasbitung dalam memperkuat gerakan pengawasan partisipatif berbasis digital resilience. di Ruang Rapat Kantor Bawaslu Kabupaten Lebak. Jum'at (30/10/2026).
"Semangat idealisme mahasiswa pada peristiwa 1966 dan 1998 adalah bukti nyata bahwa mahasiswa adalah motor penggerak perubahan. Hari ini, di ruang demokrasi modern, mahasiswa tidak boleh sekadar datang ke TPS untuk mencoblos. Mahasiswa wajib menjadi mata dan telinga Bawaslu dalam mengawasi setiap tahapan pemilu agar tetap berjalan jujur dan adil," ujar Asep Rizal Murtadho.
Senada dengan hal tersebut, Anggota Bawaslu Kabupaten Lebak Kordiv Penanganan Pelanggaran serta Data dan Informasi (PP & Datin), Dwi Agus Setiawan, menguraikan kompleksitas kerawanan pemilu berbasis teknologi terkini. Menurutnya, pencegahan dan penindakan pelanggaran saat ini membutuhkan digital resilience yang kuat dari kalangan akademisi muda.
"Kami mengidentifikasi adanya pergeseran pola pelanggaran. Praktik money politics kini tidak lagi sekadar transaksi tunai konvensional, melainkan beralih menggunakan e-wallet dan transaksi digital yang lebih terselubung. Selain itu, maraknya deepfake, baik berupa video maupun rekaman suara tiruan berbasis AI, berpotensi besar memecah belah pemilih di media sosial. Di sinilah peran kritis mahasiswa dibutuhkan untuk memverifikasi informasi dan melaporkan potensi pelanggaran," tegas Dwi Agus Setiawan.
Anggota Komisariat Universitas Setia Budhi (USB) Rangkasbitung, Najmal Huda, menyatakan kesiapan jajarannya untuk menjadi benteng terdepan dalam menyuarakan pengawasan partisipatif.
"PMII menyambut baik sinergi strategis bersama Bawaslu Lebak ini. Kader-kader PMII USB Rangkasbitung siap mengawal proses demokrasi dengan memadukan idealisme gerakan dan kecakapan digital. Kami tidak hanya akan bersuara di ruang diskusi, tetapi juga aktif menjadi garda terdepan dalam membendung arus hoaks serta mengawasi segala bentuk kecurangan digital di tengah masyarakat pada pemilu nanti," tegas Najmal Huda.
Melalui konsolidasi ini, Bawaslu Kabupaten Lebak dan PMII Komisariat USB Rangkasbitung berkomitmen membangun jejaring pengawasan partisipatif yang kritis dan berintegritas guna mewujudkan iklim demokrasi yang sehat dan tepercaya di Kabupaten Lebak.
Penulis: Noey
Foto: kiki
editor: Dani